London, 11 Oktober 2011, waktu menunjukkan sekitar pukul 7 pagi. Setelah hampir 2 minggu mengadu nasib di Inggris menjadi juri lomba Web Design WSC (World Skills) 2011, bersama dengan para juri lainnya dari berbagai bidang, kini tiba waktunya saya kembali ke tanah air. Perjalanan dari hotel menuju airport tidak terlalu lama. Saya membawa 1 bagasi, 1 handcarry, dan 1 tas ransel. Sesampainya di airport, saya mendapat kabar dari tour-leader bahwa setiap orang hanya boleh membawa maksimal 30 kg. Angka yang sudah ditetapkan dari Singapore Airlines. Saya menimbang bagasi, handcarry, dan tas ransel saya. Bagasi saya seberat 31 kg, handcarry 16 kg, dan tas ransel 7 kg. Sebuah pertanda buruk. Namun saya tetap percaya bahwa good or bad, who knows?

Sambil mendorong trolley yang berisi barang-barang, saya berharap semua barang-barang saya bisa masuk. Tiba di counter, bagasi saya seberat 31 kg dapat masuk namun handcarry saya tidak. Lalu saya menanyakan berapa biaya yang harus saya bayar agar handcarry seberat 16 kg saya dapat masuk. “105 pounds”, jawab petugas. Sekitar 1,5 juta rupiah.

Saya putuskan untuk berkonsultasi dulu dengan tour-leader, dan hasilnya saya diminta menunggu. Ketika semua rombongan sudah check-in, tinggal saya dan seorang juri lain yang masih menyisakan barang. Tentu saja saya dengan handcarry seberat 16 kg, dan juri satunya lagi dengan kotak besi seberat 160 kg berisi peralatan robot. Seorang petugas wanita (sekitar) berumur 40 tahun membawa kami berdua pada suatu tempat dan menimbang ulang bagasi kami.

Petugas melakukan kalkulasi dan kemudian berkata, “1000 pounds for the box, no bargain!”. Sekitar 15 juta untuk kotak besi tersebut. “But you can take yours, now!”, kata petugas itu sambil tersenyum menyeringai sinis kepadaku. Petugas itu meminta agar saya segera naik menuju gate sebelum dia berubah pikiran. Dan tour-leader menyetujuinya. Saya pun segera membawa handcarry dan tas ransel saya masuk menuju gate. Petugas wanita yang baik hati dan tentu saja nasib baikku, namun saya tetap percaya good or bad, who knows?

Tas seberat 16 kg bukanlah tas yang ringan. Jika Anda tidak percaya, silahkan cari barang seberat itu dan angkatlah sambil berjalan sejauh 300 meter! Tantangan berikutnya adalah saya harus melewati alat pemindai. Saya memasukkan jam tangan dan handphone ke dalam tas agar tidak merepotkan saat melewati pintu pemindai. Tentu saja petugas kaget dengan barang yang saya bawa, sebuah handcarry 16 kg dan tas ransel. Lagi-lagi petugas wanita, kali ini wanita muda yang cantik (sekitar) berusia 20 tahun. Dari wajahnya, saya asumsikan wanita ini dari India atau Pakistan. Kulitnya coklat dan body-nya seksi. Tentu saja saya tidak tertarik! Kondisi badan bermandikan keringat dan otot lengan yang sudah lemas memaksa saya harus “berdialog” lagi dengan petugas ini.

“You can’t take this! Too heavy!”, kata petugas itu. “Sure, I can! The woman at the counter allowed me!”, balas saya. Petugas itu berkonsultasi dengan seorang pria yang duduk memperhatikan monitor pemindai dan kemudian kembali ke arah saya. “Open it!”, katanya. Saya membuka handcarry saya dan petugas mengenakan sarung tangan karet. Satu per satu barang dalam tas saya dikeluarkan.

Sebagian barang dalam tas saya dikeluarkan oleh si petugas cantik dan sesuatu membuatnya tersenyum menggoda. Tentu saja celana dalamku! Satu per satu celana dalamku dikeluarkan dari tas dan tentu saja membuat saya malu ditambah dengan senyuman nakal sang petugas menambah kekesalan saya. Melihat senyumnya, ingin rasanya saya selipkan satu buah celana dalamku ke belahan dadanya sambil membisikinya “I’m free tonight!”. Untungnya kekesalanku melebihi hasratku. Kalau tidak, mungkin saya sudah di penjara atau siapa tahu di kamarnya!

Sebagian barangku sudah dikeluarkan dan bayangkan bagaimana jika semuanya dikeluarkan?! Saya harus menata ulang dan tentu saja memakan waktu. Akhirnya saya berkata kepada petugas itu, “Do you want to take it all out? Are you sure?”. Petugas itu berhenti dan melihat saya. “I have no idea how to put it again! I have to fly!”, lanjutku. Petugas itu kemudian berbicara dengan petugas pengawas monitor dan kembali ke arahku, kemudian mengijinkanku untuk memasukkan kembali barang-barangku. Sebuah tulisan dituliskan pada boarding pass-ku: “Too heavy baggage”. Saya meninggalkan petugas itu dan berkata, “Thank you!”. Petugas itu tersenyum balik dan mungkin masih mengharapkan aku memberikannya satu celana dalamku. “Damn you!”, kataku dalam hati. Akhirnya saya melewati babak ini, namun good or bad, who knows?

Saya beristirahat sejenak bersama juri lain sambil mencari-cari jam tangan dan handphone di dalam tas. Setelah satu-dua menit mencari, saya tidak menemukan kedua barang itu. Ingin rasanya saya kembali ke petugas sebelumnya dan mencari, siapa tahu tertinggal di sana. Namun mengingat “perjuangan” saya hingga sampai pada Boarding Gate ditambah dengan keringat dan tangan yang lemas, akhirnya saya mengikhlaskan “kepergian” mereka alias mengurungkan niat saya. “Bukan jodohku”, kataku dalam hati. Maksudku, jam tangan dan handphone-ku, bukan wanita cantik itu, yang bukan jodohku!

Selanjutnya saya menuju “pertarungan” terakhir! Boarding Gate. Saya memberikan boarding-pass ke petugas (lagi-lagi wanita dan berumur sekitar 40 tahun). Petugas mengatakan bahwa saya tidak dapat membawa masuk handcarry itu. Saya mengatakan bahwa wanita di counter telah mengijinkanku. “I don’t know! You can’t take this! You must pay for the over-baggage!”, kata petugas. “Okay, no problem! Count it!”, balasku ke petugas itu. Ternyata ada seorang juri lain juga mengalami hal yang sama. “Sama, Pak! Saya juga over-baggage”, katanya. Petugas menelepon seseorang dengan raut muka kesal.

Beberapa menit kemudian, seorang wanita dan pria datang menghampiri petugas itu dan mereka berdiskusi. Mereka adalah wanita petugas di counter yang mengijinkan saya membawa handcarry itu dan ditemani seorang pria petugas yang memasukkan bagasiku. Mereka membawa handcarry-ku dan pergi. Petugas boarding-gate tadi kemudian memarahiku, “Okay, you are lucky now! You don’t need to pay for that!”. “Okay, Mam. Sorry for that! Thank you!”, balasku. Sambil mengacungkan jari telunjuk ke arahku, petugas tersebut mengatakan, “This is not about ‘okay’ or ‘sorry’! You must not do it next time! Understand?!”. Sambil tersenyum kesal, saya meninggalkannya. Demikian pengalaman over-baggage-ku. Good or bad, who knows?

Jam tangan dan handphone-ku? Tentu saja saya menemukannya lagi di dalam tasku setelah duduk beristirahat di ruang Boarding Gate! Apa sih isi handcarry-ku? Permen, coklat, dan makanan lain yang saya beli sebagai souvenir untuk rekan kerja saya di kantor. Rasanya pasti enak dan lezat! Tidak percaya? Tanya saja rekan-rekan kantor saya. Bagaimana tidak? Bayangkan saja dibeli dari Inggris, dibawa dengan perjuangan yang berat dan panjang, dan tentu saja sudah ditemani celana dalamku!

BERITA BINUS : Puluhan Entrepreneur Muda BINUS University Berhasil Ciptakan Start-up Baru yang Siap Meluncur ke Pasaran

3 Responses to “Bagasi dan Celana Dalamku”
  1. rulyna says:

    hahaha.. begini ya cerita di balik oleh2nya :))

  2. beye says:

    Enak gak rasanya ci Ru?

  3. rulyna says:

    enak kok, kan isinya dibungkus, jadi masih higienis :D makasih ya ko Beye :)

  4.  
Leave a Reply