Sepupuku yang masih SMP mengajukan pertanyaan sederhana kepadaku, “Mengapa Harga Rumah Naik?” Pertanyaan ini muncul karena orangtuanya akhir-akhir ini berencana membeli rumah. Hampir setiap hari dia mendengarkan percakapan orangtuanya mengenai rumah, rumah, dan rumah. Ketika dia mengajukan pertanyaan itu kepada orangtuanya, orangtuanya hanya menjawab, “Karena banyak orang mau punya rumah.”

Karena tidak merasa puas, sepupuku kembali bertanya pada orangtuanya, “Tapi banyak orang mau punya handphone, kenapa harga handphone sekarang murah?”

Orangtuanya hanya menjawab, “Kalau kamu sudah besar, kamu baru mengerti.”

Ketika berkunjung ke rumahku, sepupuku masih menyimpan rasa penasaran. Pertanyaan sederhana itu diajukan kepadaku. Jawaban tersebut sebenarnya mudah, namun diperlukan analogi ringan agar mudah dimengerti seorang anak SMP. Itulah kenapa banyak guru ataupun dosen pintar yang gagal dalam mengajar. Mereka tidak tahu cara mentransmisikan pengetahuannya kepada murid atau mahasiswanya. Sebagai seorang lulusan S2 Manajemen yang sok tahu, saya mencoba menjawab dengan analogi ringan berdasarkan buku-buku yang pernah saya baca.

Demikian yang saya jawab.

Di suatu kawasan yang jauh dan sepi, sebut saja Jelambar, awalnya ada dua buah rumah. Yang satu ditinggal oleh seorang gadis gendut jelek bernama Cica, sedangkan yang satunya lagi masih kosong (memang untuk dijual) milik sebuah perusahaan kepunyaan pria keren bernama Budi. Kedua rumah tersebut seharga masing-masing 100 juta. Lalu muncul dua pria bertubuh besar bernama Indra dan Surya, masing-masing membawa 100 juta.

Dengan jumlah uang yang dimiliki, Indra membeli rumah milik Cica, sementara Surya membeli rumah kosong milik Budi. Total kekayaan di daerah itu sekarang adalah 400 juta.

Sebulan kemudian, Indra berkeinginan membeli rumah Surya. Karena mendambakan keuntungan, Surya mau menjual rumahnya seharga 200 juta. Indra meminjam uang Cica dan Budi sebanyak masing-masing 100 juta dan kemudian membeli rumah Surya. Total kekayaan di daerah itu sekarang adalah 500 juta.

Sebulan kemudian, Cica menyesal menjual rumahnya kepada Indra. Untuk itu, Cica ingin membeli kembali salah satu rumah Indra. Karena mendambakan keuntungan, Indra menjual rumah yang pernah dibeli dari Surya dengan harga 300 juta. Cica kemudian membeli rumah tersebut dengan meminjam 200 juta dari Surya dan menghapus piutang 100 juta Indra. Dengan uang 200 juta, Indra membayar utang 100 juta ke Budi. Total kekayaan di daerah itu sekarang adalah 600 juta.

Sebulan kemudian, Surya menagih utang 200 juta yang pernah dipinjam Cica. Karena Cica tidak sanggup membayar, akhirnya dia bertekad menjual rumahnya ke Surya seharga 400 juta. Surya membeli rumah tersebut dengan meminjam masing-masing 100 juta dari Indra dan Budi, dan menghapus utang Cica sebesar 200 juta. Total kekayaan di daerah itu sekarang adalah 700 juta.

Apapun bisa saja terjadi. Karena Surya tidak sanggup membayar utang kepada Indra dan Budi, akhirnya Surya menjual dirinya untuk dinikahi oleh Cica. Sebagai suami-istri, akhirnya Cica membayarkan utang Surya masing-masing sebesar 100 juta kepada Indra dan Budi. Total kekayaan di daerah itu sekarang adalah tetap 700 juta.

Demikian harga rumah terus membubung tinggi. Konsep sederhananya adalah karena banyaknya permintaan (manusia terus bertambah) dan terbatasnya jumlah persediaan membuat harga properti (dalam hal ini rumah) terus naik. Terbatasnya jumlah persediaan karena adanya keterbatasan variabel yang disebut tanah. Hal ini tentunya berbeda dengan handphone. Walau semakin tinggi permintaan terhadap handphone, persediaannya bisa kapan saja diproduksi karena tidak bergantung pada suatu variabel yang terbatas.

Pengembang mungkin saja mencari alternatif lain dengan membuat apartemen. Namun hal ini tetap saja menimbulkan kendala lain: pertama, kemampuan tanah dan pondasi menahan ketinggian apartemen sehingga terdapat batasan jumlah lantai yang sanggup dibangun, kedua, tidak semua orang berminat berinvestasi atau tinggal di apartemen.

BERITA BINUS : Mahasiswa BINUS University menjadi Satu-Satunya dan Pertama Mewakili Asia Pasifik dalam Konferensi Pengembangan Aplikasi Tingkat Dunia

3 Responses to “Mengapa Harga Rumah Naik”
  1. DS says:

    waow….ini mantap banget analoginya ko…wkwkkw

  2. langit says:

    Hohoho… Endingnya ya yg lu suka.

  3. RO says:

    Wah, ending yang sangat realistis sekali. Hahaha. Sangat jelas penjelasannya, thanks buat informasinya.

  4.  
Leave a Reply