Satu setengah tahun yang lalu, kehidupan saya itu baik-baik saja. Perekonomian berjalan lancar, industri berkembang dengan pesat, dan kebahagiaan itu sendiri terpenuhi. Kehidupan politik tentram. Tapi hidup tetaplah sebuah hidup. Tidak ada yang pasti, semuanya berubah. Sebuah pelajaran hidup bahwa melangkah itu sebaiknya tidak didasarkan pada emosi saja. Jangan pernah meletakkan kebahagiaan pada seseorang. Sebab jika dia berubah, kebahagiaanmu lenyap.

Kala itu natal telah lewat. Musim salju masih belum usai. Persediaan kayu bakar sudah hampir habis. Tidak ada yang menyangka bahwa itu awal dari perubahan. Angin dingin yang masuk melalui celah-celah atap, tidak ada lagi kehangatan yang diberikan. Jangan pernah merasa jijik. Walau mungkin pakaian saya lusuh, saya tetap bukanlah seekor anjing jalanan yang dipenuhi dengan debu dan kotoran terowongan kereta api Amsterdam.

Saya memang anak biasa. Saya bukan pula orang yang egois. Setidaknya saya pernah membantu saat orang-orang mulai mencari kehidupan baru. Maklum, kala itu revolusi industri di Inggris sedang bergejolak. Setiap orang berusaha mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Hampir sebulan pengorbanan waktu dan tenaga. Kendati demikian, tidak akan ada kehangatan. Meringkuk di tepi jalan bersalju, orang itu menatapmu dengan perasaan takut dan jijik sekarang. Jangan berharap banyak untuk mendapatkan rangkulannya.

Saya masih ingat saat Inggris masih mengandalkan mesin uap. Kala itu, saya hanya kasihan. Tapi setidaknya itu adalah pengorbanan. Dan ketika berkorban, itu artinya harus membuang rasa egois. Tapi apa pun itu, hidup tetaplah hidup. Pengorbananku sia-sia.

Setengah tahun yang lalu, saya ingat ketika orang-orang ramai mencari tempat berteduh. Saya mengorbankan kebutuhan sendiri untuk memenuhi kebahagiaan. Pengorbanan yang membawa krisis. Sebuah krisis berkepanjangan, bukan dalam hitungan hari, namun mungkin hingga sepuluh tahun ke depan. Siapa pun tidak akan peduli. Sebab krisis itu hanya saya yang menjalani. Revolusi industri memang membawa dampak besar dalam perekonomian. Ketika saya kelaparan pun, orang-orang tidak akan ada yang melemparkan sisa makanannya. Mungkin kotoran anjingnya pun tidak akan diberikan untuk sekadar mengisi rasa lapar.

Segalanya berubah. Ketika apa yang diinginkan harus dipenuhi, dan apa yang saya inginkan bukan menjadi urusannya. Mungkin itu yang disebut egois. Hidup memang perlu prioritas. Jangankan berpikir untuk membantu, berhitung saja sering mengalami kesulitan. Setiap waktu yang ada dibuang begitu saja. Seperti angin salju yang tak kunjung berhenti di musim itu, nasihat dianggap dingin dan hanya angin lalu. Bualan-bualan akan janji-janji. Seorang pengelola pengetahuan hanya pandai berteori, namun tidak pernah memperbaiki kehidupan. Semuanya adalah omong kosong.

Saya mungkin bukanlah prioritas seperti dulu lagi. Saya hanyalah penjual koran yang menembus dinginnya angin pagi dan malam. Ketika apa pun yang saya harapkan tidak pernah diberikan, semua hal yang saya tanyakan tidak terjawab, begitu banyak alas an yang tidak saya mengerti. Kebahagiaanku tidak akan kembali. Asap cerobong yang menyesaki udara, membuat saya lebih baik berhenti bernapas. Menutup diri dan berhenti bicara mungkin bisa membuat diri lebih tenang sambil terus menikmati angin yang berhembus. Di kala diam, kebahagiaan menyendiri terasa lebih hangat. Memang kebahagiaan itu harus berasal dari diri sendiri dan jangan pernah mengharapkan dari orang lain. Sebab jika kebahagiaan diletakkan pada orang lain, kebahagiaan itu akan lenyap seiring dengan perubahan yang tidak menentu. Orang itu bukanlah orang yang dulu lagi.

Ditulis di Keukenhof, dekat terowongan kereta api Amsterdam. Revolusi Industri di Inggris.

BERITA BINUS : Melanjuti Komitmen BINUS @MALANG untuk Pendidikan Berkualitas di Indonesia Timur

Leave a Reply