2 Species 1 Live

2 Species 1 Live

“Jika pertemuan Pria dan Wanita selalu memunculkan konflik, mengapa mereka masih saja tertarik hidup bersama?”

Sebuah kutipan dari buku karangan Josua Iwan Wahyudi yang saya pinjam dari rekan kerja saya, “2 Species 1 Love”, memberikan 21 inspirasi, 21 gambar kartun yang menyindir, dan 21 tantangan untuk para calon pasangan ataupun mereka yang telah berkeluarga. Buku ini dibagi menjadi 21 bab ringkas, masing-masing terdiri dari 1 lembar gambar kartun yang menyentil, 2 halaman cerita, dan 1 halaman penutup sebagai tantangan.

Bab 1: Cocok Nggak Cocok

“Pernikahan bukanlah mencari orang yang cocok, melainkan saling menjadi orang yang cocok bagi pasangannya.”

Betapa bodohnya mereka kalau selama menjalin hubungan (apalagi yang sudah menikah puluhan tahun) baru mengetahui bahwa ternyata ada perbedaan yang sangat besar yang sulit disatukan. Alasan “tidak cocok” juga membuktikan ketidakmampuan mereka atau ketidakmampuan mereka untuk mengelola perbedaan yang ada. Berhentilah mengkambinghitamkan perbedaan. Andalah yang menentukan masa depan pernikahan Anda.

Bab 2: Adu Nasib

“Takdir pernikahan adalah kebahagiaan sejati. Apakah semua orang akan mencapainya? Tergantung apa yang mereka lakukan dalam pernikahan.”

Keharmonisan sebuah hubungan (termasuk pernikahan) adalah murni inisiatif, kerja keras, dan kedewasaan kedua belah pihak. Keharmonisan tidak datang begitu saja hanya karena orang shio anjing menikah dengan orang shio kerbau. Keharmonisan adalah murni hasil usaha 2 orang yang ditentukan oleh faktor internal, yaitu diri mereka sendiri. Bukan ditentukan oleh faktor-faktor eksternal seperti horoskop dan sebagainya. Jika takdir kebahagiaan pernikahan berada di tangan Anda dan pasangan Anda sendiri, mengapa Anda harus menyerahkannya pada sesuatu yang lain?

Bab 3: Perfect Soul Mate

“Di dunia tidak ada yang benar-benar sempurna. Kesempurnaan hanya ada di dalam pikiran kita.”

Pernikahan berbicara mengenai penerimaan. Menerima ketidaksempurnaan pasangan kita. Menerima sisi-sisi gelapnya. Menerima segala sesuatu yang memupuskan harapan kita. Dan berbahagia di dalam semua ketidaksempurnaan itu. Ketika Anda dan pasangan Anda mampu melakukan semua ini, maka saat itulah Anda menemukan sebuah pernikahan yang sempurna.

Bab 4: Buka-Bukaan

“Kadangkala ada hal yang tidak bisa diubah kecuali dengan penerimaan”

Sadarkah Anda bahwa ada banyak orang yang lebih suka hidup dalam kebohongan, memakai topeng berwajah gembira padahal dibaliknya menyimpan sejuta bau busuk? Terkadang kita lebih suka ditipu daripada melihat kebenaran yang menyakitkan. Padahal tidak ada jalan kita, jika Anda ingin pernikahan Anda kokoh, Anda harus siap melihat “borok” pasangan Anda. Anda harus siap melihat bagian-bagian buruk dari pasangan Anda. Ujian kedewasaan tertinggi dalam pernikahan adalah penerimaan. Jika Anda merasa tidak siap dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk, maka Anda perlu berpikir ulang untuk menikah.

Bab 5: Beda Yang Indah

“Sebuah komposisi musik yang indah dibentuk dari berbagai alat musik yang berbeda, bukan oleh sekumpulan alat yang sama.”

Dalam menyikapi perbedaan, setidaknya ada 4 alternatif yang bisa Anda lakukan bersama: Mengeliminasi, Berkompromi, Kombinasi, dan Toleransi.

Bab 6: Kuncinya Di Sini

“Tidak ada orang sulit di dunia ini, yang ada adalah orang yang belum kita pahami”

Kunci dari sebuah pernikahan yang harmonis adalah saling memahami. Bukan hanya memahami keunikan masing-masing, melainkan juga memahami perbedaan yang bisa muncul akibat keunikan-keunikan tersebut.

Bab 7: Beda Kuliner

“Pria itu seperti wafel dan wanita itu seperti spagethi”

Otak pria itu sepert wafel. Terbagi atas kotak-kotak ruang. Setiap topik memiliki ruangnya masing-masing. Otak wanita diibaratkan seperti bakmi. Semuanya saling sambung-menyambung dan berhubungan. Itu sebabnya tidak mengherankan apabila wanita bisa memulai topik pembicaraan mengenai motor dan mengakhiri obrolannya dengan topik mengenai sepatu high heels.

Bab 8: Bla… Bla… Bla…

“Fokusnya bukanlah Anda, tetapi pasangan Anda!”

.Pria memiliki jatah 7000 kata yang harus dihabiskan dalam sehari. Sedangkan wanita? Mereka juga memiliki jatah 7000 kata, dikalikan 3!

Bab 9: Feeling vs Logic

“Kedewasaan yang sesungguhnya adalah memiliki perasaan yang sudah dipikirkan dan memiliki pikiran yang sudah dirasakan”

Pria mengatasi stress/krisis/masalah dengan berfokus pada menemukan solusinya, sedangkan wanita mengatasi stress/krisis/masalah dengan menggunakan hubungan yang melibatkan unsur emosi.

Bab 10: Saatnya Peka

“Apa yang terbaik menurut Anda belum tentu yang terbaik menurut orang lain”

Wanita bukan hanya menyelesaikan stress dengan berbicara, lebih jauh dari itu, mereka menyelesaikan stress melalui hubungan. Ketika pria dalam kondisi sangat tertekan, maka semua otak mereka yang berhubungan dengan hubungan dan perasaan akan terputus. Pria akan menjadi sangat fokus pada pikiran mereka untuk mencari solusi.

Bab 11: One Track

“Ketika seorang pria sedang fokus, ia akan mengelimininasi sekitarnya”

Ketika pria sedang fokus pada sesuatu, entah ia sedang melihat sesuatu, mendengar sesuatu, atau melakukan sesuatu, maka pria akan cenderung menjadi tidak aware dengan hal lain. Berbeda dengan wanita yang sering disebut sebagai makhluk multitrack.

Bab 12: Triple X

“Anda tidak bisa mencegah burung terbang di atas kepala, tetapi Anda bisa mencegah mereka bersarang di kepala Anda.”

Pria akan memikirkan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan seks dan porno sebanyak 240 kali sehari. Artinya, rata-rata 6 menit sekali pria cenderung berpikir jorok. Pria mampu memisahkan urusan cinta dan seks. Sedangkan wanita justru membutuhkan cinta untuk membuatnya bergairah secara seksual.

Bab 13: Ikan Ketemu Air

“Hal yang paling Anda anggap remeh bisa menjadi hal terpenting bagi orang lain”

Pria cenderung lebih mudah belajar mengemudi karena untuk mengemudi mobil dan parker sangat diperlukan kemampuan spasial serta koordinasi tangan dan kaki yang baik. Banyak orang maklum ketika sebuah mobil terlihat “ngaco” karena pengemudinya adalah wanita.

Bab 14: Rabun Dekat

“Tidak ada yang salah dengan pasangan Anda, mereka hanyalah berbeda dari Anda.”

Wanita memiliki jangkauan pandangan yang luasnya hampir 180 derajat! Alasan ini pula yang membuat wanita jarang tertangkap basah sedang melirik pria ganteng yang duduk di sebelahnya. Dan pria, sering menjadi korban tertangkap basah sedang memandangi wanita seksi sampai gerakan kepalanya mengikuti kemanapun wanita itu melangkah. Baik pria maupun wanita sebenarnya memiliki persentase yang sama dalam hal “lirik-melirik”.

Bab 15: Ujian Cinta

“Ketika Anda kehilangan rasa percaya, sesungguhnya Anda sedang kehilangan cinta”

Kebiasaan menguji pasangan memiliki dampak yang tidak baik. Menguji adalah indikasi tidak adanya trust dalam sebuah hubungan. Menguji adalah tindakan memaksakan harapan dan tidak bisa menerima bagian tertentu pasangan kita. Menguji adalah bukti ketidakdewasaan dan bukti bahwa ada sesuatu yang bermasalah dalam emosi Anda.

Bab 16: Periode Perang

“Salah satu anugerah Tuhan terbesar kepaad manusia adalah: kemampuan untuk memilih dan menentukan perilakunya sendiri.”

Datang bulan adalah salah satu keluhan terbesar baik oleh kaum pria maupun oleh wanita itu sendiri. Pertama, gara-gara wanita datang bulan, mereka jadi tidak bisa berhubungan seks setiap saat. Kedua, ketika datang bulan, pria sering menjadi sasaran kemarahan wanita untuk alasan-alasan yang terkadang sama sekali tidak jelas.

Bab 17: Shopping Time!

“Wanita tidak pernah membutuhkan alasan dan tujuan untuk berbelanja. Mereka melakukannya karena mereka wanita!”

Perhatikan ketika para wanita sibuk berbelanja, jika mereka bersama pasangannya, mungkin Anda akan melihat ada wajah-wajah lesu yang menghiasi wajah pasangannya. Kepala mereka akan mulai berat dan mengantuk jika diajak masuk ke dalam department store lebih dari 20 menit.

Bab 18: Sang Kompetitor

“Ketika pria tidak mau kalah, ia bukan mirip anak kecil. Anak kecillah yang mirip pria…”

Para wanita, pernahkah Anda melihat para pria begitu ngotot tidak mau kalah untuk sesuatu yang sangat konyol? Misalnya, mereka bertengkar hanya karena kalah main game.

Bab 19: Barter Gen

“Definisi tidak maksimal adalah melakukan, berfungsi atau menjadi sesuatu yang bukan seharusnya”

Pernakah Anda bertanya-tanya mengapa ada wanita yang begitu perkasa, dominan, dan seolah-olah lebih ahli melakukan pekerjaan pria daripada sang pria itu sendiri. Dan sebaliknya, ada juga pria-pria yang begitu feminism, perasaannya sangat halus, dan bahkan kadangkala menggemari beberapa kegiatan favorit wanita seperti ngerumpi, shopping, dan sebagainya.

Bab 20: Konflik Positif

“Konflik menunjukkan kelemahan kita masing-masing. Apakah kita akan menjadi semakin baik atau semakin rusak, tergantung kita sendiri”

Pasangan yang gagal memandang konflik sebagai masalah, sebuah ajang pertarungan, dan tidak belajar dari konflik yang mereka alami. Pasangan yang dewasa memandang konflik sebagai sesuatu yang wajar, dan sebagai sarana untuk menunjukkan titik-titik yang perlu dikembangkan.

Bab 21: Bunuh Diri Ah…

“Cinta bukanlah berapa banyak kebahagiaan yang Anda kumpulkan, melainkan berapa banyak kebahagiaan yang sudah Anda berikan”

Pernahkah Anda menahan diri tidak marah pada pasangan Anda yang sedang datang bulan dan mengomeli Anda tanpa alasan? Jika Anda menjawab pernah, Anda tentu mengerti apa yang kami maksud dengan kata “bunuh diri”.

“Bagaimana mungkin hidup bersama selamanya dengan orang yang jelas-jelas berbeda dengan kita?”

Penasaran dengan isi bukunya? Silahkan cari di toko buku terdekat yah…

Comments No Comments »

London, 11 Oktober 2011, waktu menunjukkan sekitar pukul 7 pagi. Setelah hampir 2 minggu mengadu nasib di Inggris menjadi juri lomba Web Design WSC (World Skills) 2011, bersama dengan para juri lainnya dari berbagai bidang, kini tiba waktunya saya kembali ke tanah air. Perjalanan dari hotel menuju airport tidak terlalu lama. Saya membawa 1 bagasi, 1 handcarry, dan 1 tas ransel. Sesampainya di airport, saya mendapat kabar dari tour-leader bahwa setiap orang hanya boleh membawa maksimal 30 kg. Angka yang sudah ditetapkan dari Singapore Airlines. Saya menimbang bagasi, handcarry, dan tas ransel saya. Bagasi saya seberat 31 kg, handcarry 16 kg, dan tas ransel 7 kg. Sebuah pertanda buruk. Namun saya tetap percaya bahwa good or bad, who knows?

Sambil mendorong trolley yang berisi barang-barang, saya berharap semua barang-barang saya bisa masuk. Tiba di counter, bagasi saya seberat 31 kg dapat masuk namun handcarry saya tidak. Lalu saya menanyakan berapa biaya yang harus saya bayar agar handcarry seberat 16 kg saya dapat masuk. “105 pounds”, jawab petugas. Sekitar 1,5 juta rupiah.

Saya putuskan untuk berkonsultasi dulu dengan tour-leader, dan hasilnya saya diminta menunggu. Ketika semua rombongan sudah check-in, tinggal saya dan seorang juri lain yang masih menyisakan barang. Tentu saja saya dengan handcarry seberat 16 kg, dan juri satunya lagi dengan kotak besi seberat 160 kg berisi peralatan robot. Seorang petugas wanita (sekitar) berumur 40 tahun membawa kami berdua pada suatu tempat dan menimbang ulang bagasi kami.

Petugas melakukan kalkulasi dan kemudian berkata, “1000 pounds for the box, no bargain!”. Sekitar 15 juta untuk kotak besi tersebut. “But you can take yours, now!”, kata petugas itu sambil tersenyum menyeringai sinis kepadaku. Petugas itu meminta agar saya segera naik menuju gate sebelum dia berubah pikiran. Dan tour-leader menyetujuinya. Saya pun segera membawa handcarry dan tas ransel saya masuk menuju gate. Petugas wanita yang baik hati dan tentu saja nasib baikku, namun saya tetap percaya good or bad, who knows?

Tas seberat 16 kg bukanlah tas yang ringan. Jika Anda tidak percaya, silahkan cari barang seberat itu dan angkatlah sambil berjalan sejauh 300 meter! Tantangan berikutnya adalah saya harus melewati alat pemindai. Saya memasukkan jam tangan dan handphone ke dalam tas agar tidak merepotkan saat melewati pintu pemindai. Tentu saja petugas kaget dengan barang yang saya bawa, sebuah handcarry 16 kg dan tas ransel. Lagi-lagi petugas wanita, kali ini wanita muda yang cantik (sekitar) berusia 20 tahun. Dari wajahnya, saya asumsikan wanita ini dari India atau Pakistan. Kulitnya coklat dan body-nya seksi. Tentu saja saya tidak tertarik! Kondisi badan bermandikan keringat dan otot lengan yang sudah lemas memaksa saya harus “berdialog” lagi dengan petugas ini.

“You can’t take this! Too heavy!”, kata petugas itu. “Sure, I can! The woman at the counter allowed me!”, balas saya. Petugas itu berkonsultasi dengan seorang pria yang duduk memperhatikan monitor pemindai dan kemudian kembali ke arah saya. “Open it!”, katanya. Saya membuka handcarry saya dan petugas mengenakan sarung tangan karet. Satu per satu barang dalam tas saya dikeluarkan.

Sebagian barang dalam tas saya dikeluarkan oleh si petugas cantik dan sesuatu membuatnya tersenyum menggoda. Tentu saja celana dalamku! Satu per satu celana dalamku dikeluarkan dari tas dan tentu saja membuat saya malu ditambah dengan senyuman nakal sang petugas menambah kekesalan saya. Melihat senyumnya, ingin rasanya saya selipkan satu buah celana dalamku ke belahan dadanya sambil membisikinya “I’m free tonight!”. Untungnya kekesalanku melebihi hasratku. Kalau tidak, mungkin saya sudah di penjara atau siapa tahu di kamarnya!

Sebagian barangku sudah dikeluarkan dan bayangkan bagaimana jika semuanya dikeluarkan?! Saya harus menata ulang dan tentu saja memakan waktu. Akhirnya saya berkata kepada petugas itu, “Do you want to take it all out? Are you sure?”. Petugas itu berhenti dan melihat saya. “I have no idea how to put it again! I have to fly!”, lanjutku. Petugas itu kemudian berbicara dengan petugas pengawas monitor dan kembali ke arahku, kemudian mengijinkanku untuk memasukkan kembali barang-barangku. Sebuah tulisan dituliskan pada boarding pass-ku: “Too heavy baggage”. Saya meninggalkan petugas itu dan berkata, “Thank you!”. Petugas itu tersenyum balik dan mungkin masih mengharapkan aku memberikannya satu celana dalamku. “Damn you!”, kataku dalam hati. Akhirnya saya melewati babak ini, namun good or bad, who knows?

Saya beristirahat sejenak bersama juri lain sambil mencari-cari jam tangan dan handphone di dalam tas. Setelah satu-dua menit mencari, saya tidak menemukan kedua barang itu. Ingin rasanya saya kembali ke petugas sebelumnya dan mencari, siapa tahu tertinggal di sana. Namun mengingat “perjuangan” saya hingga sampai pada Boarding Gate ditambah dengan keringat dan tangan yang lemas, akhirnya saya mengikhlaskan “kepergian” mereka alias mengurungkan niat saya. “Bukan jodohku”, kataku dalam hati. Maksudku, jam tangan dan handphone-ku, bukan wanita cantik itu, yang bukan jodohku!

Selanjutnya saya menuju “pertarungan” terakhir! Boarding Gate. Saya memberikan boarding-pass ke petugas (lagi-lagi wanita dan berumur sekitar 40 tahun). Petugas mengatakan bahwa saya tidak dapat membawa masuk handcarry itu. Saya mengatakan bahwa wanita di counter telah mengijinkanku. “I don’t know! You can’t take this! You must pay for the over-baggage!”, kata petugas. “Okay, no problem! Count it!”, balasku ke petugas itu. Ternyata ada seorang juri lain juga mengalami hal yang sama. “Sama, Pak! Saya juga over-baggage”, katanya. Petugas menelepon seseorang dengan raut muka kesal.

Beberapa menit kemudian, seorang wanita dan pria datang menghampiri petugas itu dan mereka berdiskusi. Mereka adalah wanita petugas di counter yang mengijinkan saya membawa handcarry itu dan ditemani seorang pria petugas yang memasukkan bagasiku. Mereka membawa handcarry-ku dan pergi. Petugas boarding-gate tadi kemudian memarahiku, “Okay, you are lucky now! You don’t need to pay for that!”. “Okay, Mam. Sorry for that! Thank you!”, balasku. Sambil mengacungkan jari telunjuk ke arahku, petugas tersebut mengatakan, “This is not about ‘okay’ or ‘sorry’! You must not do it next time! Understand?!”. Sambil tersenyum kesal, saya meninggalkannya. Demikian pengalaman over-baggage-ku. Good or bad, who knows?

Jam tangan dan handphone-ku? Tentu saja saya menemukannya lagi di dalam tasku setelah duduk beristirahat di ruang Boarding Gate! Apa sih isi handcarry-ku? Permen, coklat, dan makanan lain yang saya beli sebagai souvenir untuk rekan kerja saya di kantor. Rasanya pasti enak dan lezat! Tidak percaya? Tanya saja rekan-rekan kantor saya. Bagaimana tidak? Bayangkan saja dibeli dari Inggris, dibawa dengan perjuangan yang berat dan panjang, dan tentu saja sudah ditemani celana dalamku!

Comments 3 Comments »

Musuh paling besar dari kesuksesan adalah ketika Anda merasakan kemapanan, kenyamanan, keenakan, ketentraman, ketika Anda menikmati kemalasan, ketika Anda selalu mengatakan “everything is fine”, ketika Anda selalu menggampangkan keadaan. Dan itulah yang selalu kita alami ketika kita sedang berada di puncak kesuksesan. Ketika Anda dijangkiti perasaan nyaman, ketika Anda sudah terbuai di dalam comfort zone, maka Anda harus siap kesuksesan Anda melayang.

Yang menyebabkan Honda bisa terkejar oleh Yamaha bukanlah karena produk Honda kalah hebat atau kalah cerdas dari Yamaha. Yang membuat Nokia terkejar oleh Blackberry dan ponsel local bukanlah karena Nokia kalah cangih atau kalah inovatif. Tapi karena merek top itu terjangkiti penyakit mematikan bernama: “Comfort Zone Trap”.

Dalam buku berjudul “How to Mighty Faill (2009)”, Jim Collins menemukan bahwa perusahaan-perusahaan hebat yang menuai sukses luar biasa akhirnya bisa jatuh bukanlah melulu karena salah strategi atau kurang piawai menjalankan eksekusi. Penyebab awal dan mendasar justru adalah mental dan sikap manajemen yang mudah puas, nyaman, menggampangkan keadaan, arogan terhadap kesuksesan yang telah mereka tuai, dan kehilangan sense of crisis.

Jim Collins memberikan gambaran yang sangat bermanfaat untuk diambil pelajarannya mengenai proses keruntuhan perusahaan yang telah menuai puncak kesuksesan. Ia mengidentifikasi tanda-tanda perusahaan yang terperangkap dalam “pusaran keruntuhan” akibat adanya penyakit “comfort zone trap” ini.

  1. Arogan, yaitu ketika perusahan sudah mulai arogan karena kesuksesan yang telah didapat. Perusahaan juga sudah mulai kehilangan kepekaan terhadap faktor-faktor  yang melandasi kesuksesan mereka sebelumnya.
  2. Tamak, yaitu ketika gejala arogan di atas mulai muncul maka kemudian kita dihinggapi oleh apa yang disebut “undisciplined pursuit of more” yaitu ketika kita berpacu terus menuntut sesuatu yang lebih: skala perusahaan yang makin besar; pertumbuhan yang makin besar; pujian-pujian yang makin tinggi; atau singkatnya kita menuntut kesuksesan yang makin dan makin besar. Karena tuntutan ini maka perusahaan biasanya tidak bisa berdisiplin lagi pada apa-apa yang menjadi fokus kemampuannya. Perusahaan juga tumbuh lebih cepat dari kapasitas kecepatan yang dimilikinya. Kalau sudah begini perusahaan menjadi kelebihan beban dan kepayahan karena ambisi yang membabi-buta.
  3. Emoh Berisiko, yaitu ketika sinyal-sinyal adanya kelemahan di dalam perusahaan mulai terlihat, namun kinerja keseluruhan perusahaan tetap solid. Manajemen menganggap bahwa sinyal-sinyal kelemahan di dalam organisasi tersebut hanya kerikil-kerikil tajam yang akan gampang diselesaikan. Dalam fase ini, “leaders discount negative data, amplify positive data, and put a positive spin on ambiguous data. They start to blame external factors for setbacks rather than accept responsibility.”
  4. Pahlawan Kesiangan, yaitu ketika tanda-tanda penurunan organisasi kian kasat mata, pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana cara pemimpin organisasi meresponnya? Jawabannya biasanya ada dua. Pertama adalah kembali ke disiplin strategi yang telah terbukti membawa organisasi ke tampuk kesuksesan. Kedua, pemimpin berjibaku melakukan pengorbanan habis-habisan dengan melakukan transformasi radikal, revolusi budaya perusahaan, akuisisi membabi-buta, meluncurkan produk hebat, dan sebagainya. Mereka menjadi pahlawan kesiangan. Dalam jangka pendek gebrakan ini membawa hasil, namun umumnya keberhasilan tersebut tidak bisa dipertahankan dalam kurun waktu lama.
  5. Kehilangan Harapan, yaitu ketika penurunan pada fase 4 di atas semakin berlarut-larut, maka vitous circle kejatuhan organisasi semakin menemukan momentumnya. Puncaknya adalah ketika kemunduran tersebut semakin menggerogoti kinerja keuangan dan menurunkan moral karyawan. Pada titik ini, si pemimpin  pun kehilangan harapan akan nasib dan masa depan perusahaan. Di sinilah kejatuhan organisasi mulai menemukan jalannya.

Oleh: Yuswohady, Pengamat Bisnis dan Pemasaran

Disadur dari berbagai sumber

Comments No Comments »

Karyawan-karyawanmu bukan karyawan-karyawanmu
Mereka adalah pekerja-pekerja dari kehidupan yang merindukan dirinya sendiri
Mereka diangkat melaluimu tetapi bukan darimu
Dan walaupun mereka bekerja untukmu, mereka bukanlah milikmu
Kau dapat memberikan kasih-sayangmu tetapi tidak pikiranmu
Karena mereka mempunyai pemikiran sendiri

Modified: Gibran

Comments No Comments »

Ketika saya membeli makan siang di salah satu tempat makan Vegetarian di seberang jalan tempat saya bekerja, saya melihat sebuah artikel tertempel di lemari kaca tempat sayur dihidangkan. Artikel tersebut menceritakan betapa berharganya sebutir nasi.

Demikian kurang lebih isi artikelnya.

Berapa banyak nasi yang terbuang dalam satu hari?

Jumlah penduduk Indonesia ± 250.000.000 orang. Jika dalam 1 hari, setiap orang makan 3 kali, dan sekali makan setiap orang membuang 1 butir nasi saja, berarti setiap hari ada 3 butir nasi yang dibuang oleh setiap orang. Maka 3 butir x 250.000.000 = 750.000.000 butir nasi terbuang setiap hari. Itupun jika hanya membuang 1 butir nasi setiap kali makan.

Dalam 1 kg beras terdapat ± 50.000 butir, maka 750.000.000 dibagi 50.000 = 15.000 kg atau sama dengan 15 ton beras yang dibuang setiap hari. Jika 1 kg beras cukup untuk memenuhi makan 10 orang, maka 15.000 kg x 10 orang adalah cukup untuk memenuhi makan 150.000 orang. Artinya beras yang terbuang setiap hari di Indonesia sebenarnya bisa untuk memberi makan 150.000 orang.

Jika seluruh penduduk dunia yang berjumlah 6,5 milyar, dengan setiap orang membuang 3 butir nasi saja per hari, maka 1 hari nasi yang terbuang adalah 390.000 kg (390 ton) atau cukup untuk memberi makan 3.900.000 orang.

Ironisnya menurut data FAO PBB, setiap hari ada 40.000 orang mati akibat kelaparan di dunia. Analoginya jika rakyat Indonesia saja yang menyumbangkan 1 butir beras setiap kali makan, bukan saja tidak ada orang kelaparan di Indonesia, tetapi juga di dunia.

Ada artikel lain yang memiliki cerita yang mirip dengan cerita di atas.

Cina yang sekarang muncul sebagai negara super power, dahulunya pernah menjadi negara yang sangat miskin. Dengan jumlah penduduk yang berjumlah 1 milyar kala itu, bukanlah hal yang mudah bagi pemerintah Cina untuk menyejahterakan rakyatnya. Hutang luar negeri dari negara tetangga terdekat pun menjadi gantungan, yaitu Sovyet. Alkisah suatu hari terjadi perselisihan paham antara Mao Ze Dong, pemimpin Cina era itu, dengan pemimpin Uni Sovyet. Perselisihan begitu panas sampai keluar sebuah pernyataan dari pemimpin Sovyet, ‘Sampai rakyat Cina harus berbagi 1 celana dalam untuk 2 orang pun, Cina tetap tidak akan mampu membayar hutangnya.’

Ucapan yang sangat menyinggung perasaan rakyat Cina itupun disampaikan Mao kepada rakyatnya dengan cara menyiarkannya lewat siaran radio. Penghinaan dari pemimpin Sovyet itu secara terus menerus disiarkan dari pagi hingga malam ke seluruh negeri sambil mengajak segenap rakyat Cina

untuk bangkit dan melawan penghinaan tersebut dengan cara berkorban.

Ajakan Mao kepada rakyatnya adalah menyisihkan 1 butir beras, ya, hanya 1 butir beras untuk setiap anggota keluarga, setiap kali mereka akan memasak. Jika 1 rumah tangga terdiri dari 3 orang maka cukup sisihkan 3 butir beras. Beras yang disisihkan dari 1 Milyar penduduk Cina tersebut, tidak dikorupsi tentunya, akan menghasilkan 1 milyar butir beras setiap hari. Hasilnya dikumpulkan ke pemerintah untuk dijual. Uangnya digunakan untuk membayar hutang kepada negara pemberi hutang yang telah menghina mereka. Akhirnya Cina berhasil melunasi hutang mereka ke Sovyet dalam waktu yang sangat cepat.

Disadur dari berbagai sumber.

Comments No Comments »

Sepupuku yang masih SMP mengajukan pertanyaan sederhana kepadaku, “Mengapa Harga Rumah Naik?” Pertanyaan ini muncul karena orangtuanya akhir-akhir ini berencana membeli rumah. Hampir setiap hari dia mendengarkan percakapan orangtuanya mengenai rumah, rumah, dan rumah. Ketika dia mengajukan pertanyaan itu kepada orangtuanya, orangtuanya hanya menjawab, “Karena banyak orang mau punya rumah.”

Karena tidak merasa puas, sepupuku kembali bertanya pada orangtuanya, “Tapi banyak orang mau punya handphone, kenapa harga handphone sekarang murah?”

Orangtuanya hanya menjawab, “Kalau kamu sudah besar, kamu baru mengerti.”

Ketika berkunjung ke rumahku, sepupuku masih menyimpan rasa penasaran. Pertanyaan sederhana itu diajukan kepadaku. Jawaban tersebut sebenarnya mudah, namun diperlukan analogi ringan agar mudah dimengerti seorang anak SMP. Itulah kenapa banyak guru ataupun dosen pintar yang gagal dalam mengajar. Mereka tidak tahu cara mentransmisikan pengetahuannya kepada murid atau mahasiswanya. Sebagai seorang lulusan S2 Manajemen yang sok tahu, saya mencoba menjawab dengan analogi ringan berdasarkan buku-buku yang pernah saya baca.

Demikian yang saya jawab.

Di suatu kawasan yang jauh dan sepi, sebut saja Jelambar, awalnya ada dua buah rumah. Yang satu ditinggal oleh seorang gadis gendut jelek bernama Cica, sedangkan yang satunya lagi masih kosong (memang untuk dijual) milik sebuah perusahaan kepunyaan pria keren bernama Budi. Kedua rumah tersebut seharga masing-masing 100 juta. Lalu muncul dua pria bertubuh besar bernama Indra dan Surya, masing-masing membawa 100 juta.

Dengan jumlah uang yang dimiliki, Indra membeli rumah milik Cica, sementara Surya membeli rumah kosong milik Budi. Total kekayaan di daerah itu sekarang adalah 400 juta.

Sebulan kemudian, Indra berkeinginan membeli rumah Surya. Karena mendambakan keuntungan, Surya mau menjual rumahnya seharga 200 juta. Indra meminjam uang Cica dan Budi sebanyak masing-masing 100 juta dan kemudian membeli rumah Surya. Total kekayaan di daerah itu sekarang adalah 500 juta.

Sebulan kemudian, Cica menyesal menjual rumahnya kepada Indra. Untuk itu, Cica ingin membeli kembali salah satu rumah Indra. Karena mendambakan keuntungan, Indra menjual rumah yang pernah dibeli dari Surya dengan harga 300 juta. Cica kemudian membeli rumah tersebut dengan meminjam 200 juta dari Surya dan menghapus piutang 100 juta Indra. Dengan uang 200 juta, Indra membayar utang 100 juta ke Budi. Total kekayaan di daerah itu sekarang adalah 600 juta.

Sebulan kemudian, Surya menagih utang 200 juta yang pernah dipinjam Cica. Karena Cica tidak sanggup membayar, akhirnya dia bertekad menjual rumahnya ke Surya seharga 400 juta. Surya membeli rumah tersebut dengan meminjam masing-masing 100 juta dari Indra dan Budi, dan menghapus utang Cica sebesar 200 juta. Total kekayaan di daerah itu sekarang adalah 700 juta.

Apapun bisa saja terjadi. Karena Surya tidak sanggup membayar utang kepada Indra dan Budi, akhirnya Surya menjual dirinya untuk dinikahi oleh Cica. Sebagai suami-istri, akhirnya Cica membayarkan utang Surya masing-masing sebesar 100 juta kepada Indra dan Budi. Total kekayaan di daerah itu sekarang adalah tetap 700 juta.

Demikian harga rumah terus membubung tinggi. Konsep sederhananya adalah karena banyaknya permintaan (manusia terus bertambah) dan terbatasnya jumlah persediaan membuat harga properti (dalam hal ini rumah) terus naik. Terbatasnya jumlah persediaan karena adanya keterbatasan variabel yang disebut tanah. Hal ini tentunya berbeda dengan handphone. Walau semakin tinggi permintaan terhadap handphone, persediaannya bisa kapan saja diproduksi karena tidak bergantung pada suatu variabel yang terbatas.

Pengembang mungkin saja mencari alternatif lain dengan membuat apartemen. Namun hal ini tetap saja menimbulkan kendala lain: pertama, kemampuan tanah dan pondasi menahan ketinggian apartemen sehingga terdapat batasan jumlah lantai yang sanggup dibangun, kedua, tidak semua orang berminat berinvestasi atau tinggal di apartemen.

Comments 3 Comments »

Pengusaha Ala Lebah vs Nyamuk

Lebah menghasilkan madu yang punya sejuta manfaat. Sebaliknya, nyamuk sering menjadi permasalahan, misalnya penyakit demam berdarah.

1. Konsep Saling Menguntungkan

Lebah mencari bahan untuk kebutuhan hidupnya, yaitu madu. Lebah hanya akan datang pada bunga-bunga terbaik untuk mengambil sari madunya. Di balik itu, saat mencari madu, lebah tak hanya mengambil manfaat, lebah juga memberikan manfaat untuk persebaran benih tumbuhan. Ia acap kali membawa bibit bunga sehingga tumbuh tersebar mengikuti jalur ke mana lebah terbang.

Jika analogikan sebagai pengusaha, konsep lebah dikenal sebagai simbiosis mutualisme, atau hubungan saling menguntungkan. Pengusaha seperti ini akan mendapatkan kepercayaan dengan tidak hanya mencapai keuntungan pribadi, namun juga memaksimalkan keuntungan pelanggan. Hal ini akan membuat hubungan bertahan lama.

Berbeda dengan nyamuk yang datang hanya untuk mengisap darah sebanyak mungkin. Pengusaha seperti ini hanya mencari keuntungan pribadi sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan sekelilingnya. Entah pelanggan puas atau tidak, yang penting keuntungan sudah di tangan. Hal ini akan mengundang ketidakpercayaan yang berujung pada berakhirnya hubungan.

2. Konsep Networking

Saat lebah bertemu dengan bunga yang banyak sari madunya, lebah tak akan langsung mengisapnya. Lebah pencari ini akan kembali ke sarang mereka terlebih dahulu dan kemudian memberitahukan kepada kawanannya. Setelah itu, barulah mereka bahu-membahu kembali ke lokasi pusat bunga tersebut untuk mengambil sari madu bersama-sama. Tak ada nilai ketamakan yang menggoda lebah untuk menikmati madunya sendiri.

Pengusaha seperti ini tentunya menjanjikan kekuatan kebersamaan yang kuatnya luar biasa. Adanya informasi yang menguntungkan tak dikonsumsi sendiri, melainkan dibagi-bagi demi kebaikan bersama. Hasilnya, usaha bisa saling topang dan saling dukung demi kemajuan bersama.

Berbeda dengan nyamuk yang segera memangsa korban setelah tahu di mana lokasinya. Memang ada beberapa nyamuk yang datang bergerombol, tapi seolah semua sama rakusnya. Isap darah di mana-mana. Pengusaha seperti ini akan terpuruk ditelan ketamakannya. Seperti nyamuk, saat bahaya mengancam, ia sering tak waspada karena saking rakusnya. Nasib seperti itulah yang sering terjadi pada pengusaha yang tak tahu etika demi memuaskan nafsunya sendiri.

3. Konsep Jangka Panjang

Sarang lebah merupakan struktur yang luar biasa sempurna. Bahkan kuman pun tak bisa masuk sehingga madu yang ada di dalamnya bisa bertahan lama. Sarang yang dibangun sudah sangat terencana. Pengusaha seperti ini membangun fondasi yang kokoh sehingga mampu bertahan lama menghadapi tantangan yang ada.

Nyamuk hinggap di mana dia suka. Tanpa persiapan apa pun, jika ada bahaya, nyamuk hanya tinggal menunggu ajalnya. Parahnya, karena nyamuk saking tamaknya, sering terbebani oleh darah yang diisapnya. Pengusaha seperti ini tanpa perencanaan dan tanpa pemikiran jangka panjang, sudah pasti akan rapuh saat tantangan datang mengujinya.

4. Konsep Multimanfaat

Lebah diciptakan sebagai mahkluk yang memiliki sejuta manfaat. Mulai dari madu di sarangnya, kemampuannya menyebarkan benih tanaman, hingga sengatannya yang mampu menjadi obat penyembuh penyakit tertentu. Pengusaha seperti ini akan membawakan manfaat kebaikan dan keberkahan bagi setiap orang yang berbisnis dengannya.

Berbeda dengan nyamuk dengan kerakusannya. Pengusaha seperti ini hanya inign memetik manfaat bagi dirinya sendiri. Pengusaha seperti ini bisa meraih kesuksesan, namun tak kan lama. Sebab, orang tak akan nyaman berdekatan dan berbisnis dengannya.

Oleh: Agoeng Widyatmoko

Comments No Comments »

Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat telah menyeret negara-negara lain. Dampaknya di Indonesia memang tidak terlalu terasa karena kondisi keuangan Indonesia sangat stabil pada saat dikelola oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Apa sebetulnya penyebab terjadinya krisis tersebut? Berikut adalah ulasan yang disajikan dengan ringan agar lebih mudah dipahami.

Tanda-tanda krisis keuangan global sudah bisa diprediksi sejak sub prime mortgage crisis di Amerika Serikat (AS) terjadi pada Agustus 2007. Saat itu orang-orang tidak mengira bahwa krisis tersebut akan menjadi krisis global seperti sekarang. Krisis tersebut dimulai dari:

Pertama, perbankan AS menyalurkan kredit (pinjaman) kepada nasabah properti secara kurang hati-hati. Itulah yang disebut sebagai sub prime mortgage. Kondisi dimana bank tetap mengucurkan pinjaman kepada nasabah yang sebenarnya kurang layak.

Kedua, tahun 2000 hingga 2004, The Fed (Bank Sentral AS) menurunkan suku bunga menjadi 1 persen (merupakan tingkat bunga terendah sepanjang sejarah AS). Bunga yang murah itu mendorong warga AS ramai-ramai mengajukan kredit, termasuk kredit perumahan. Proses pembangunan rumah memerlukan waktu yang tidak singkat, sedangkan permintaan melonjak (orang Indonesia memang lebih hebat dalam hal bangunan, bahkan bisa membangun 999 candi dalam 1 malam). Akibatnya sesuai hukum ekonomi, melonjaknya permintaan terhadap perumahan membuat harga rumah di AS membubung tinggi.

Ketiga, 8 tahun terakhir, perekonomian AS begantung pada konsumsi properti. Dalam periode itu, industri AS kalah bersaing dengan China, sehingga banyak perusahaan AS gulung tikar dan menurunkan upah riil. Penurunan upah riil itu otomatis menurunkan kemampuan nasabah (umumnya para buruh) dalam membayar cicilan kredit. Tahun 2004 hingga 2007, The Fed menaikkan suku bunga secara fantastis dari 1% menjadi 5,2%. Akibatnya, pendapatan buruh semakin rendah namun cicilan kredit membengkak. Saat itu, banyak rumah yang akhirnya disita dan dijual oleh perbankan. Pada Agustus 2007 tercatat ada sekitar satu setengah juta rumah yang disita dan siap dijual oleh perbankan. Sesuai hukum ekonomi, terlalu banyak rumah yang ditawarkan (melampau kebutuhan), maka anjloklah harga jualnya. Orang-orang kaya di AS pun tidak tergiur dengan harga rumah yang rendah karena mereka tidak yakin akan kenaikan harga rumah di kemudian hari. Keadaan itu membuat bank-bank di AS mengalami kerugian atau krisis, yang kemudian disebut sebagai sub prime mortgage crisis.

Penurunan harga properti menurunkan kemampuan bank-bank AS membayar utang mereka pada Lehman Brothers, salah satu perusahaan pemberi pinjaman terbesar. Efek domino ini disebut sebagai serial kebangkrutan, dimulai nasabah, bank, dan menjalar ke perusahaan pemberi pinjaman ke bank. Hantaman krisis yang menyeret aspek-aspek lain membuat Amerika Serikat tidak berkutik. Para pakar ekonomi meyakini Amerika Serikat akan segera memasuki masa resesi hebat (pertumbuhan ekonomi minus). Diyakini pada tahun 2030, Amerika Serikat akan memasuki masa sebagai negara biasa yang sejajar dengan negara-negara berkembang lainnya, atau bahkan lebih buruk. Pada masa itu, negara-negara yang memiliki kekuatan ekonomi besar akan bermunculan dari Eropa dan Asia. Inilah awal masa kelam yang membuat negara Adidaya tersebut tak berdaya.

Dari berbagai sumber.

Comments No Comments »

Satu setengah tahun yang lalu, kehidupan saya itu baik-baik saja. Perekonomian berjalan lancar, industri berkembang dengan pesat, dan kebahagiaan itu sendiri terpenuhi. Kehidupan politik tentram. Tapi hidup tetaplah sebuah hidup. Tidak ada yang pasti, semuanya berubah. Sebuah pelajaran hidup bahwa melangkah itu sebaiknya tidak didasarkan pada emosi saja. Jangan pernah meletakkan kebahagiaan pada seseorang. Sebab jika dia berubah, kebahagiaanmu lenyap.

Kala itu natal telah lewat. Musim salju masih belum usai. Persediaan kayu bakar sudah hampir habis. Tidak ada yang menyangka bahwa itu awal dari perubahan. Angin dingin yang masuk melalui celah-celah atap, tidak ada lagi kehangatan yang diberikan. Jangan pernah merasa jijik. Walau mungkin pakaian saya lusuh, saya tetap bukanlah seekor anjing jalanan yang dipenuhi dengan debu dan kotoran terowongan kereta api Amsterdam.

Saya memang anak biasa. Saya bukan pula orang yang egois. Setidaknya saya pernah membantu saat orang-orang mulai mencari kehidupan baru. Maklum, kala itu revolusi industri di Inggris sedang bergejolak. Setiap orang berusaha mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Hampir sebulan pengorbanan waktu dan tenaga. Kendati demikian, tidak akan ada kehangatan. Meringkuk di tepi jalan bersalju, orang itu menatapmu dengan perasaan takut dan jijik sekarang. Jangan berharap banyak untuk mendapatkan rangkulannya.

Saya masih ingat saat Inggris masih mengandalkan mesin uap. Kala itu, saya hanya kasihan. Tapi setidaknya itu adalah pengorbanan. Dan ketika berkorban, itu artinya harus membuang rasa egois. Tapi apa pun itu, hidup tetaplah hidup. Pengorbananku sia-sia.

Setengah tahun yang lalu, saya ingat ketika orang-orang ramai mencari tempat berteduh. Saya mengorbankan kebutuhan sendiri untuk memenuhi kebahagiaan. Pengorbanan yang membawa krisis. Sebuah krisis berkepanjangan, bukan dalam hitungan hari, namun mungkin hingga sepuluh tahun ke depan. Siapa pun tidak akan peduli. Sebab krisis itu hanya saya yang menjalani. Revolusi industri memang membawa dampak besar dalam perekonomian. Ketika saya kelaparan pun, orang-orang tidak akan ada yang melemparkan sisa makanannya. Mungkin kotoran anjingnya pun tidak akan diberikan untuk sekadar mengisi rasa lapar.

Segalanya berubah. Ketika apa yang diinginkan harus dipenuhi, dan apa yang saya inginkan bukan menjadi urusannya. Mungkin itu yang disebut egois. Hidup memang perlu prioritas. Jangankan berpikir untuk membantu, berhitung saja sering mengalami kesulitan. Setiap waktu yang ada dibuang begitu saja. Seperti angin salju yang tak kunjung berhenti di musim itu, nasihat dianggap dingin dan hanya angin lalu. Bualan-bualan akan janji-janji. Seorang pengelola pengetahuan hanya pandai berteori, namun tidak pernah memperbaiki kehidupan. Semuanya adalah omong kosong.

Saya mungkin bukanlah prioritas seperti dulu lagi. Saya hanyalah penjual koran yang menembus dinginnya angin pagi dan malam. Ketika apa pun yang saya harapkan tidak pernah diberikan, semua hal yang saya tanyakan tidak terjawab, begitu banyak alas an yang tidak saya mengerti. Kebahagiaanku tidak akan kembali. Asap cerobong yang menyesaki udara, membuat saya lebih baik berhenti bernapas. Menutup diri dan berhenti bicara mungkin bisa membuat diri lebih tenang sambil terus menikmati angin yang berhembus. Di kala diam, kebahagiaan menyendiri terasa lebih hangat. Memang kebahagiaan itu harus berasal dari diri sendiri dan jangan pernah mengharapkan dari orang lain. Sebab jika kebahagiaan diletakkan pada orang lain, kebahagiaan itu akan lenyap seiring dengan perubahan yang tidak menentu. Orang itu bukanlah orang yang dulu lagi.

Ditulis di Keukenhof, dekat terowongan kereta api Amsterdam. Revolusi Industri di Inggris.

Comments No Comments »

Segala sesuatu pasti berubah, tidak ada yang tetap. Justru yang tetap itu adalah perubahan itu sendiri. Demikian dengan kebaikan dan kebenaran, segala sesuatu yang dianggap baik ataupun benar akan terus berubah dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat. Standar itu tidak pernah berhenti.

Berdasarkan cerita para veteran yang hidup pada jaman 1900an, sepasang kekasih yang berjalan kaki sambil bergandengan tangan, ataupun bersepeda sambil membonceng kekasihnya di jalan dengan posisi sang kekasih memeluk dari belakang, akan mendapat sorotan masyarakat sekitar dan menjadi bahan pembicaraan sehingga bisa dianggap tidak baik pada jaman itu. Namun pada jaman sekarang, hal seperti itu sudah dianggap biasa. Sesuatu yang tidak baik di jaman dulu, belum tentu tidak baik di jaman sekarang. Relativitas kebaikan bergantung pada waktu.

Di negeri timur, berciuman dengan pasangan di depan umum mungkin dianggap tidak baik. Namun di negeri barat, hal seperti itu dianggap biasa. Hal yang tidak baik di suatu tempat, belum tentu tidak baik di tempat lain. Relativitas kebaikan bergantung pada tempat.

Demikian pula dengan kebenaran. Pada jaman dulu, bahwa Pluto adalah planet dalam tata surya, adalah suatu kebenaran. Sejak Pluto keluar dari peredaran orbit tata surya, kebenaran itu sudah berubah. Musim hujan dan kemarau di Indonesia pada jaman dulu, berbeda pada jaman sekarang. Hukum kimia ataupun fisika yang benar di jaman dulu, belum tentu benar di jaman sekarang. Relativitas kebenaran bergantung pada waktu.

Bahwa sinar matahari adalah panas, adalah kebenaran yang berlaku pada negara di kawasan tengah bumi. Kebenaran itu tidak berlaku pada kawasan kutub bumi. Hukum gravitasi Newton bahwa semua benda akan ditarik pada satu titik yang sama adalah benar pada sebagian besar daerah di bumi, namun kebenaran itu belum tentu berlaku pada beberapa kawasan misteri seperti Santa Cruz di California ataupun Warsawa di Polandia. Hukum fisika yang benar di suatu tempat, belum tentu benar di tempat lain. Relativitas kebenaran bergantung pada tempat.

Comments No Comments »